Sabtu, 11 Januari 2014

Saya Lupa Bagaimana....

Saya lupa bagaimana rasanya menjaga tanpa dijaga. Bagaimana rasanya memperjuangkan tanpa diperjuangkan. Namun setidaknya, dahulu saya pernah melakukan semua itu dan merasakan suka dukanya.
"Belum ada yang pas...", kataku ketika yang lain sedang sibuk memperkenalkan pasangannya, membanggakan apa yang mereka punya, hingga melihat bagaimana tingkah laku yang setidaknya pernah saya lakukan, dulu.
Saya hanya bisa tersenyum, bagaimana rasanya menjadi mereka, mulai beradaptasi hingga mengalami duka yang teramat dalam ketika mereka terluka. Sedangkan saya bisa apa? Selain memberikan satu kata yg simple namun susah untuk dilakukan bagi yang merasakan:
sabar ya!
Untuk mendapatkan yang lebih baik, saya harus meninggalkan semua hal buruk yang sebelumnya saya alami. Pelan-pelan, tanpa kesengajaan, membiarkan semuanya pergi begitu saja. Sakit? Pasti. Ikhlas? Belum tentu, meski ucap selalu mengatakan seperti itu. Saya lupa bagaimana seharusnya bertingkah ketika jatuh cinta, bukan karena takut untuk memulai sebuah harapan baru kepada orang baru. Melainkan masih enggan untuk meninggalkan harapan yang lama meski masih tersisa luka.
dan pada akhirnya, saya harus pandai mengingat hal-hal baru yang mungkin lebih menyenangkan daripada yang sebelumnya. Saya harap begitu saya memulai, saya akan bisa lupa sekaligus mengingat. Lupa bagaimana sakitnya mengikhlaskan apa yang seharusnya tidak dilepaskan dan mengingat bagaimana manisanya
dia
memperlakukan sebuah hal kecil menjadi hal yang sangat menyenangkan nantinya.
Semoga dihari yang telah ditentukan Tuhan,
Saya bisa lupa bagaimana menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kita, tanpa harus mengukir luka.

Tidak ada komentar:

Powered By Blogger