aku mulai merasai kamuiya, kamu. tak pernah kurasa rindu yang mendesir begitu deras. disini. dialiran darahku yang selalu memompa darahnya kejantung, hingga seluruh tubuhku merasakan, aku rindu. untuk lucky.
porsi dan posisiku sudah diskenariokan. kita hanya pemeran, tak perlu menebak-nebak masa depan, jalani saja hari ini.
Rabu, 16 Januari 2013
dear my beloved, lucky.
untuk lucky.
entah aku harus memulainya dari mana, aku tak pernah tahu kapan aku mulai memiliki rasa yang begitu aneh, selalu menunggu kamu ada di handphoneku,terlihat konyol, menanyakan sesuatu yang kuanggap itu tak perlu, anmun ketika kau tak menanyakaan, aku yang ragu.
kamu, tiba-tiba memberi kenyamanan yang selalu kuharapkan, kenyamanan yang lama tak pernah kudapat. kenyamanan yang mulai memaksaku merindu kekita kau tak disampingku.
menggenggam duri dalm rindu.
masih saja kugenggam duri dalam rinduku, untuk kamu yang masih saja memaksaku untuk merindu.
mencintaimu yang berlebih hingga luka yang berlebih aku raih.
namun aku rindu. demi kamu yang masih kugenggam, meski kau seperti duri yang selalu saja membuatku luka. semakin kugenggam semakin kau menyakitiku. hingga berdarah-darah, namun aku rindu.apa lagi yang harus aku perbuat? aku tak akan pernah tahu. karna sejatinya aku menggenggam duri dalam rinduku.
Minggu, 06 Januari 2013
Masihkah kau seperti yg dulu: senja?
Mentari. Kita hanyalah makhluk kecil diantara beribu sinar yg dipancarkannya, seperti pengharapan selalu saja datang dan menawarkan ribuan keindahan, namun ketika semua itu tiada tercapai hanyalah satu yg kita peroleh, ya! Kecewa. Tak ada kata lain selain kecewa. Kita terluka? Pasti. Hanya saja kita dituntut pandai untuk menutupinya.
Senja, tanpa warna, kelam, seperti yg lalu. Kelabu!Malam, begitu kunanti, karna malam selalu menghadirkan sejuta kerinduanku kepada adam. Jauh, tak mampu ku jangkau, tak mampu kupandang, apalagi kusentuh; kukecup, seperti malam-malam sebelumnya. Malampun turut menjadi kelam. Pagi menjelang, kutetap terjaga. Menanti sang adam memberi kabar. Meskipun melalui sebuah khayalan. Terlalu indah mengkhayal hingga aku lupa bagaimana harusnya aku mendarat. Karan khayalanku sudah terbang begitu jauh; sejauh kita. Terpisahkan pulau, terpisahkan hati pula. Kita pun sebenarnya sudah tiada. Hanya aku saja yg masih mengenang. Hujan yang semakin deras membuyarkan lamunanku yang begitu sendu, tak ada alasan yang pasti mengapa aku menjadi sesendu ini. Aku rindu atau? Entahlah, yang jelas aku hanya ingin mengingat betapa manisnya kisah cintaku dulu. -
Langganan:
Postingan (Atom)
