Senin, 27 Januari 2014

Ikhlas.

Selalu ada kata ikhlas terucap setelah ada luka, bagaimana pandainya kita menutupi rasa sakit dengan satu kata tersebut, bagaimana respon mereka yang menyaksikan kita berpindah dengan meninggalkan segala kebiasaan-kebiasaan agar tidak terlalu memikirkan. Namun, apakah ada perbedaan? Selalu ada embel-embel "tapi" setelah mengucapkan "saya ikhlas,....".
Bukankah ikhlas harus menghilangkan kata "tapi"?
Lalu saya memikirkan kembali, "bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya sudah mengikhlaskan? Saya mengingat kembali, bahwa saya selalu menucapkan ikhlas namun batin masih mengimbuhi beribu tapi. dan terbukti bahwa diri ini belum mengikhlaskan."
karena sebenarnya, sesuatu yg dirasa sudah tidak saling menyamankan satu sama lain merupakan peringatan untuk kita berpindah. dia ataupun kita sudah tidak lagi menjadi sama, satu tujuan. lalu untuk apa dipertahankan? Bukankah mempertahankan sesuatu yg sudah tidak layak malah akan menambah ketidaknyamanan satu sama lain? Pasti akan ada yg tersakiti, dia, kita atau malah keduanya? Bukankah cinta itu tanpa paksaan?
Mengingat-ingat kembali, kita adalah manusia biasa. Kita adalah pembuat rencana; bagaimana kita nanti, Bukankah Dia yg menentukan?

Tidak ada komentar:

Powered By Blogger