Senin, 21 April 2014

Memorabilia.

Langit mendung, hujan turun. Rasanya masih ingin tetap disini; membaca, mengulang dan mengingat-ingat apapun tentang dia. Sedetik terkumpul menjadi hitungan menit, aku masih tertahan disini. Entah untuk apalagi, aku sudah tidak memiliki alasan lain. Sedangkan, dia yg sudah beranjak pergi sejak kemarin-kemarin bahkan belum lekas kembali. Silahkan memberikanku aplouse seribu atas penantianku, dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga kini entah berapa belas bulan aku menanti, berapa langkah aku berjalan sendiri dan berapa persimpangan yg telah aku singgahi, masih belum mengerti bukan?
begitupula hati, masih mencari tanpa ada arah yg pasti. Mengengok kanan, kiri. Berjalan keujung lalu kembali lagi, aku belum menemui. Mengayunkan kaki duduk dikursi tinggi, menghitung ayunan...satu... dua... sambil menyaksikan puluhan orang berjalan bergantian, Menundukkan kepala karena putus asa, lalu keyakinanku mengembalikan niatku untuk tetap menunggu.
Terkadang, aku membiarkan hati bebas, lepas untuk sejenak tidak memikirkan, namun kenangan selalu mengingatkan. dan aku baru menyadari, ketika dia pergi, dia selalu lupa membawa kenangannya hingga pada akhirnya diri ini yg memungutnya pelan-pelan. Dan aku teringat kata seorang kawan, ketika luka tersisa, kenangan menjadi asa, hati belum terobati, pikiran akan terus mengingat-ingat segala. Kamu belum bisa lupa.
Surabaya di Awal Bulan Februari.

Senin, 27 Januari 2014

Ikhlas.

Selalu ada kata ikhlas terucap setelah ada luka, bagaimana pandainya kita menutupi rasa sakit dengan satu kata tersebut, bagaimana respon mereka yang menyaksikan kita berpindah dengan meninggalkan segala kebiasaan-kebiasaan agar tidak terlalu memikirkan. Namun, apakah ada perbedaan? Selalu ada embel-embel "tapi" setelah mengucapkan "saya ikhlas,....".
Bukankah ikhlas harus menghilangkan kata "tapi"?
Lalu saya memikirkan kembali, "bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya sudah mengikhlaskan? Saya mengingat kembali, bahwa saya selalu menucapkan ikhlas namun batin masih mengimbuhi beribu tapi. dan terbukti bahwa diri ini belum mengikhlaskan."
karena sebenarnya, sesuatu yg dirasa sudah tidak saling menyamankan satu sama lain merupakan peringatan untuk kita berpindah. dia ataupun kita sudah tidak lagi menjadi sama, satu tujuan. lalu untuk apa dipertahankan? Bukankah mempertahankan sesuatu yg sudah tidak layak malah akan menambah ketidaknyamanan satu sama lain? Pasti akan ada yg tersakiti, dia, kita atau malah keduanya? Bukankah cinta itu tanpa paksaan?
Mengingat-ingat kembali, kita adalah manusia biasa. Kita adalah pembuat rencana; bagaimana kita nanti, Bukankah Dia yg menentukan?

Sabtu, 11 Januari 2014

Saya Lupa Bagaimana....

Saya lupa bagaimana rasanya menjaga tanpa dijaga. Bagaimana rasanya memperjuangkan tanpa diperjuangkan. Namun setidaknya, dahulu saya pernah melakukan semua itu dan merasakan suka dukanya.
"Belum ada yang pas...", kataku ketika yang lain sedang sibuk memperkenalkan pasangannya, membanggakan apa yang mereka punya, hingga melihat bagaimana tingkah laku yang setidaknya pernah saya lakukan, dulu.
Saya hanya bisa tersenyum, bagaimana rasanya menjadi mereka, mulai beradaptasi hingga mengalami duka yang teramat dalam ketika mereka terluka. Sedangkan saya bisa apa? Selain memberikan satu kata yg simple namun susah untuk dilakukan bagi yang merasakan:
sabar ya!
Untuk mendapatkan yang lebih baik, saya harus meninggalkan semua hal buruk yang sebelumnya saya alami. Pelan-pelan, tanpa kesengajaan, membiarkan semuanya pergi begitu saja. Sakit? Pasti. Ikhlas? Belum tentu, meski ucap selalu mengatakan seperti itu. Saya lupa bagaimana seharusnya bertingkah ketika jatuh cinta, bukan karena takut untuk memulai sebuah harapan baru kepada orang baru. Melainkan masih enggan untuk meninggalkan harapan yang lama meski masih tersisa luka.
dan pada akhirnya, saya harus pandai mengingat hal-hal baru yang mungkin lebih menyenangkan daripada yang sebelumnya. Saya harap begitu saya memulai, saya akan bisa lupa sekaligus mengingat. Lupa bagaimana sakitnya mengikhlaskan apa yang seharusnya tidak dilepaskan dan mengingat bagaimana manisanya
dia
memperlakukan sebuah hal kecil menjadi hal yang sangat menyenangkan nantinya.
Semoga dihari yang telah ditentukan Tuhan,
Saya bisa lupa bagaimana menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kita, tanpa harus mengukir luka.

Sabtu, 04 Januari 2014

Bukan Seandainya. By: @landakgaul. Text sedikit diedit.

Pernahkah kamu sebelum tidur memandangi langit-langit kamar? Tapi kali ini bukan untuk tersenyum sendiri, tapi sambil menatap nanar dan menerawang, membayangkan semua kejadian demi kejadian yang kamu lewatin bersama dia. Iya, dia yang paling berharga untuk kamu, tapi ternyata kamu ngga seberharga itu untuk dia. Rasanya seperti ingin teriak di depan dia, biar dia sadar biar dia mikir, tapi ngga bisa. Hal yang bisa kamu lakukan hanya menunggu, menunggu dia peka, menunggu dia sadar. Lalu timbul pertanyaan besar yang terus berputar dibenak kamu sekarang;
Dia tidak peka atau tidak peduli? Dia tidak punya otak atau tidak punya hati?
Kamu tidak pernah berharap dia salah satu dari itu, tapi kenyataannya dia bisa saja keduanya, tidak peduli dan tidak punya hati. Tidak terasa air mata menetes, masih bertemankan langit-langit kamar, mungkin sambil berharap keajaibain datang.. Tidak apa keajaiban itu tidak menghampirimu, tapi minimal bisa menghampiri dia, supaya dia sadar betapa besar cinta kamu untuknya. tapi biar kamu tersakiti sampai segininya dan dia tidak peduli sampe segitunya, kamu bisa apa? Bukankah kamu tetep tidak bisa kemana-mana kan? cinta itu ngga bisa kemana-mana lagi kan? keinginan move on selalu ada tapi dia terlalu berharga, kan? Ah seandainya dia tau sedang dicinta sebegitu besarnya, mungkin.. Entahlah, sebaiknya tidak berandai-andai, Jadi bukan seandainya dia tau... tapi seharusnya dia yang tau...
Powered By Blogger