Jumat, 31 Mei 2013

Hug.

Aku merasa lebih nyaman ketika tanganmu memelukku, erat, tanpa banyak kata. KAu tak meninggalkan pelukmu, masih tetap hangat merayu. Aku merindukan kamu.

Jumat, 24 Mei 2013

Too Sweeties, you.

Secangkir kopi pagi ini terasa begitu legit, sangat panas, enggan untukku tiup lalu kuhabiskan. Seperti cintaku kemarin, masih hangat kurasa, masih ingin ku genggam, enggan untukku habiskan hari ini juga. Berharap ada sisa untuk cinta yg kemarin, dan ingin merasakan legitnya cinta dalam duka. Semua itu tak akan terasa begitu pahit seperti kopi tanpa pemanis, meski tanpa kutambahkan beberapa sendok gula, aku masih merasai legitnya. Sayang sekali jika aku harus menghabiskan kopiku kali ini, Masih ingin merasakan hangat dan legitnya. Namun tanpa sadar aku telah menghabiskan, masih menyisa bubuk kopi hitam. Seperti cintaku kali ini, tanpa sadar aku sudah membiarkan rasa itu pergi. pelan-pelan, namun kepastian untuk benar-benar meninggalkan. dan, legitnya masih terasa, hingga saat ini.

Forefather.

Look at what the forefathers leave for us, can you feel it spirits morning cold and leaf. Wanting and realise about this day.... oh have we learn, hunting of true for what our forefathers leave
Oh Have we learn.... Have we learn.... Have we learn.. have we learn .. From our forefathers Have we change... Have we change... Oh Have we lear.. have we learn from the pain..
Yesterday was that to learn, Tomorrow's day for us to dream and Today is day for us, to live our life... To change for the better.. To change for the better.. To change for the better.. to change for the better.. To change for the better........
Have we learn... from our forefathers I think old too..

Memorabilia.

aku tidak bisa, atau mungkin belum bisa untuk berjalan sendiri diarea ini. Pada setiap persimpangan selalu ada yg mengingatkan memorabiliaku terhadapmu. Aku sendu kembali, aku merasa sendiri. benar-benar sendiri. Merasa rapuh mungkin. Entahlah.. Aku kesal kepada diriku sendiri, mengapa aku rela begitu saja melepaskan kamu.
ini bukan tentang memorabilia tentang kamu. tapi bagaimana aku sanggup untuk tidak lagi mencantumkan namamu disetiap memoribiliaku. yg pasti, aku berusaha lupa. atau mungkin, secara tidak sadar aku sudah melupakan; kamu.

Selasa, 21 Mei 2013

A Reason.

Setauku mencintai tak memerlukan alasan. Karna aku tak pernah tau mengapa aku bisa mencintai kamu. Masih tak bisa lagi menjelaskan alasanku untuk tetap mencintai kamu.
Mencintai tak harus memerlukan beribu alasan untuk mempertahankan, semua itu tumbuh perlahan dan melekat dalam ingatan. sulit untuk didiskripsikan. karna memang, cinta tak membutuhkan alasan
kamu tak pernah bisa menjelaskan mengapa kamu mencintai dia? mengapa kamu mau bertahan kepada seseorang yang jelas-jelas sulit untuk kamu pertahankan? mengapa kamu masih mau menjadi seseorang yang diingini dibanding yang dibutuhkan. kamu tak pernah bisa menjelaskan. ya! sekali lagi. cinta tak membutuhkan alasan. lalu, mengapa masih saja kau pertanyakan?

Sabtu, 18 Mei 2013

Firasat.

Mengapa wanita memiliki daya ingat yang kuat pada firasat mereka? Seperti magis namun ini nyata, apa yg dia rasa seolah terasa, benar-benar terasa begitu saja. Apalagi terhadap lelakinya - hanya saja yang dirasa tak pernah merasa. Tak peduli apalagi peka. Yang mereka tau, tak terjadi apapun. sedangkan wanita selalu mengkhawatirkan lelakinya, tak ingin terjadi apa-apa namun enggan untuk mengatakannya.

Rabu, 15 Mei 2013

Kali Ini Aku Lupa.

Aku masih setia kepada rangkaian kata-kataku, yang kini sedang terpisah kemana-mana, aku tidak bisa untuk merangkainya dari awal. Semuanya kacau, dan aku masih belum bisa merangkainya dari awal. Ingin menyerah namun aku tak ingin kalah dengan frasaku. Mana mungkin aku melupakan segala imagine ku begitu saja, sedangkan rasaku masih terlarut pada frasaku. Semuanya bermakna, dari kata ke kata, pada setiap bait pada frasaku, mana mungkin aku lupa sedangkan rasaku begitu lekat disini.
Namun benar, kali ini aku sangat sulit untuk merangkainya dari awal.

Selasa, 14 Mei 2013

Selamat Pagi, Senja.

Selamat pagi, Senja. Selamat pagi harapan. Selamat pagi kamu. Cintaku tak perlu kau tebak-tebak lagi. Sudah jelas, aku mencintaimu luar biasa; Senja

Perwujudan Sebuah Rasa.

perwujudan sebuah rasa, dari hal yang tidak biasa, menjadi biasa. dari hal yang kurang dirasa, kini semakin dirasa. seperti rindu yang kemarin masih setengah, kini mulai penuh. menjejali ruangan dalam lobus jantung, terasa sesak ingin diungkap! perwujudan sebuah rasa, dari aku kepada kamu. dari yang diam-diam kini menjadi terang-terangan. demi untuk kau ketahui lalu kau rasai. hanya demi itu, sesimple itu namun tetap kuurungkan niat mengungkap, lalu aku ragu. perwujudan sebuah rasa, kini aku yang menyeru! hatiku yang membiru, rasa sesak disini harus segera aku bebaskan. meski pelan-pelan. meski butuh waktu. aku harus lakukan.
karna rasaku sudah mulai menyeruak, partikel-partikel didalam otak sudah mulai memberontak, impuls rasa sudah disampaikan atau bahkan sudah dirasakan, lalu? mengapa masih tak ada jawaban?
sudah enggan untuk menyaksikan perwujudan sebuah rasa, yang terabaikan. meski sudah melalui perantara yang cukup panjang. aku hilang.

Sabtu, 11 Mei 2013

Kembang Gula.

bagaimana aku bisa merasakan manis yang benar-benar legit seperti kembang gula? dari setiap bagian masih saja terasa manis, hingga aku enggan untuk melewatkan setiap bagian dari kembang gula ini. entah mengapa aku begitu mencintai legitnya kembang gula ini. terlihat konyol ketika aku mencari-cari ini, demi merasakan rasa legit beberapa tahun yang lalu. masih sama seperti yang dulu, legitnya, warna soft yang mmbuat aku menyukai ini. aku sangat menyukai ini; kembang gula.

Jumat, 10 Mei 2013

----------

kalau belum jatuh, mana mungkin kamu bisa tau rasanya sakit. lalu, bagaimana kamu tau caranya untuk bangkit? :)

Hujan

Ini bukan perihal bagaimana sendunya aku ketika hujan turun. merasa jika hujan tak pernah adil, aku dibasahi dengan beribu tetesan air. aku ingin seperti hujan, datangnya beramai-ramai. membuat aroma yang khas jika mengenai tanah. Dinginnya memberikan kesejukan tersendiri, tak ingin berhenti. jangan berhenti disini, aku masih ingin merasai kesejukan udara ketika hujan tiba. menanti pelangi jika hujan telah reda. tapi jangan sekarang, aku masih ingin merasaimu lagi.

Mengenang Senja di Pinggir Kota

“Hey, mengapa kamu melamun? Seperti tak ada kerjaan lain. Make a move girl.” Sahut Juno yang entah kapan datangnya, aku tak melihatnya tadi. Aku hanya tersenyum, pikiran ini masih terpaku kepada senja sore itu. Begitu menyejukkan dengan hembusan angin, langit yang tak pernah bosan memberikan keeksotisannya, membuatku benar-benar jatuh cinta kepada senja. Aku tak pernah lelah untuk melewatkan senjaku sendirian. Ya! Semenjak hubunganku dengan Krisna berakhir aku memutuskan untuk tetap menjalani hariku sendirian, menyakitkan memang. Harus merelakan lelaki sebaik dia, tanpa alasan yang jelas dia memutuskan. Tanpa sepatah katapun lalu aku meg-iya-kan untuk berakhir. “Tak ada yang salah ketika kamu menjadi seperti ini, menjelma menjadi perempuan pendiam, lebih sering mencari kesibukan. Dan aku tak akan pernah lelah untuk menemani kamu”. Juno menyambung lagi. “Aku masih tak mengeri, mengapa sesakit ini, rasaku belum sepenuhnya pulih. Sudah seperti ini lagi” jawabku. “Dia mempunyai alasan yang lain, mengapa harus mengakhiri ini semua. Dan kamu harus menerima. Lambat laun kamu akan mengerti tanpa ada alasan yang harus dijelaskan lebih dan lebih.” Kata Juno. Sedikit membuatku mengerti, aku terdiam kembali. “Kamu mau disini sampai jam berapa, sudah petang. Senja sudah enggan untuk kau pandangi, dia bosan meihatmu menangis setiap hari. Pulanglah, mukenamu minta untuk kau kenakan, mintalah kepada Tuhan pikiran yang lebih tenang.” Nasehat Juno. “iya, aku akan pulang. 5/10 menit lagi mungkin. Aku masih ingin disini.” jawabku. “baiklah, aku akan meninggalkan kamu sendirian.” Lalu Juno pergi dan meninggalkan segelas mocacinno kesukanku disampingku. Ya, dia tahu bagaimana aku bisa menghilangkan segala kepenatanku. Dia tahu apapun yang menjadi favoriteku, mulai dari makanan kesukaanku, film favoriteku, lagu yang paling sering aku putar dan aku nyanyikan pelan-pelan di mobilnya. Seperti mocacinno ini, setiap malampasti aku meluangkan waktu untuk menulis dan tak pernah meninggalkan canduku yang satu ini. 10menit pun berlalu, aku bergegas pulang dan membawa segelas mocacinno yang masih ada setengah gelas. Masih terasa hangat, dan masih belum rela aku buang. Seperti cintaku kepada Khrisna, aku masih ingin meneruskan ceritaku bersama dia, masih belum rela jika aku melepasnya. Namun keadaan sudah membuatku tak ada daya lagi. Dan akupun menyerah. Sampai dirumah, aku bergegas mandi, mengambil air wudhu dan aku segera sholat. Sama seperti malam-malam kemarin, aku masih tetap mendo’akan Khrisna, tak pernah absen untuk bercerita tentangnya kepada Tuhan. -------------------- Malam ini terasa begitu dingin, ku ambil laptopku. Lalu aku meneruskan cerpen untuk blogku. Masih saja aku menulis tentang hidupku sendiri, terlalu banyak komentar yang langsung ku dengar, membuatku tersenyum. Entah aku harus senang atau menangis, yang jelas aku enggan untuk terlarut dalam sedihku. Ku buka handphone, masih saja kusimpan pesan-pesan singkat Khrisna. Masih saja aku usil untuk membacanya. Sangat klasik memang, jika aku menangis mengingatnya. Ah, apa yang slah denganku ini. Mengapa harus berakhir seperti ini. sudahlah. Aku sudah lelah, mataku sangat berat jika haus tak tidur lagi. Aku butuh istirahat. Beberapa hari ini aku menjadi egois, tak memikirkan keadaanku sendiri. Makan tak teratur, apalagi tidur. Ah, tolol!
yang jelas, hari ini aku puas menikmati senjaku,masih setia tanpa kamu disisi. tak seperti beberapa bulan yang lalu. aku tak akan pernah bosan kepada senjaku.

Selasa, 07 Mei 2013

Kaepada Kamau Penuh Dengan Kebencian.

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian. Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar. Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya? Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri? Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja. Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.” Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu. Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan… aku takut sendirian. — *Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), buku kumpulan surat cinta dari berbagai macam penulis. Selain memuat 25 cinta para pemenang Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia 2008, ada juga surat cinta dari Adhitya Mulya, Christian Simamora, Andi Eriawan, Ita Sembiring dan penulis lainnya. Gue nulis surat ini dari tahun lalu, eh baru inget pas ada beberapa orang yang nulis ini di notes mereka di Facebook. Gue taro sini deh.

~

jika aku putih, kamu memilih hitam menjadi dominan untuk beberapa waktu, atau mungkin tak terhitung berapa lama. jika aku mencintai senja, kau lebih mencintai malam. lalu kau memaksa aku untuk lebih mencintai malam. akupun menjadi seperti kamu. aku begitu mencintai malamku, karna kamu. ya! ada banyak alasan mengapa aku mencintai apa yg paling aku benci di dalam hidupmu. kita berbeda, tapi kau masih saja membuatku seakan sama denganmu. lalu pelan-pelan aku mulai merasai apa yg ada di diri kamu. kamu tau, aku lebih mencintai senja, amat sangat mencintai senja. kau tak pernah memaksaku membenci senjaku. lalu kau mulai mengikutiku untuk mulai mencintai senja, kau melakukan hal yang sama seperti aku; mencintai apa yang paling kau benci di dalam hidupmu. lalu kita merasai hal yang sama lagi. ya! kita seakan sama, tanpa sekat lagi. kita satu, bukan hanya aku dan kamu. melainkan kita. ya! aku mencintai kamu, segala hal yang ku benci menjadi kucintai dan itu kamu.

(titik)

aku ingin menjadi titik di setiap frasemu, pada setiap langkahmu. menjadi penutup dari segala jeda, lalu koma. atau apalah yang menjadi penghubung, entah sampai kapan akan menunggu titik itu benar-benar menjadi titik. aku masih menunggu itu. terkadang kamu melupakan dimana kamu harus berhenti, lalu kamu masih mencari. mencari dan masih saja mencari, sedangkan titik masih saja menunggu kamu lelah lalu berhenti; tak berjalan lagi. harus lebih sabar menjadi titik, sesabarnya rasa sabar itu sendiri. yang jelas sabarku untukkmu tak pernah menemui titik.aku harap begitu. taukah kamu mengapa aku selalu berusaha menjadi titikmu? karna aku hanya ingin menjadi penutup dari segala perjalananmu. dari segala persinggahanmu sebelum aku. lalu kamu mulai bisa merasakan aku ini benar-benar membuatmu nyaman lalu tetap tinggal(titik)
Powered By Blogger