yang jelas, hari ini aku puas menikmati senjaku,masih setia tanpa kamu disisi. tak seperti beberapa bulan yang lalu. aku tak akan pernah bosan kepada senjaku.
porsi dan posisiku sudah diskenariokan. kita hanya pemeran, tak perlu menebak-nebak masa depan, jalani saja hari ini.
Jumat, 10 Mei 2013
Mengenang Senja di Pinggir Kota
“Hey, mengapa kamu melamun? Seperti tak ada kerjaan lain. Make a move girl.” Sahut Juno yang entah kapan datangnya, aku tak melihatnya tadi. Aku hanya tersenyum, pikiran ini masih terpaku kepada senja sore itu. Begitu menyejukkan dengan hembusan angin, langit yang tak pernah bosan memberikan keeksotisannya, membuatku benar-benar jatuh cinta kepada senja. Aku tak pernah lelah untuk melewatkan senjaku sendirian. Ya! Semenjak hubunganku dengan Krisna berakhir aku memutuskan untuk tetap menjalani hariku sendirian, menyakitkan memang. Harus merelakan lelaki sebaik dia, tanpa alasan yang jelas dia memutuskan. Tanpa sepatah katapun lalu aku meg-iya-kan untuk berakhir.
“Tak ada yang salah ketika kamu menjadi seperti ini, menjelma menjadi perempuan pendiam, lebih sering mencari kesibukan. Dan aku tak akan pernah lelah untuk menemani kamu”. Juno menyambung lagi. “Aku masih tak mengeri, mengapa sesakit ini, rasaku belum sepenuhnya pulih. Sudah seperti ini lagi” jawabku.
“Dia mempunyai alasan yang lain, mengapa harus mengakhiri ini semua. Dan kamu harus menerima. Lambat laun kamu akan mengerti tanpa ada alasan yang harus dijelaskan lebih dan lebih.” Kata Juno. Sedikit membuatku mengerti, aku terdiam kembali.
“Kamu mau disini sampai jam berapa, sudah petang. Senja sudah enggan untuk kau pandangi, dia bosan meihatmu menangis setiap hari. Pulanglah, mukenamu minta untuk kau kenakan, mintalah kepada Tuhan pikiran yang lebih tenang.” Nasehat Juno. “iya, aku akan pulang. 5/10 menit lagi mungkin. Aku masih ingin disini.” jawabku. “baiklah, aku akan meninggalkan kamu sendirian.” Lalu Juno pergi dan meninggalkan segelas mocacinno kesukanku disampingku. Ya, dia tahu bagaimana aku bisa menghilangkan segala kepenatanku. Dia tahu apapun yang menjadi favoriteku, mulai dari makanan kesukaanku, film favoriteku, lagu yang paling sering aku putar dan aku nyanyikan pelan-pelan di mobilnya. Seperti mocacinno ini, setiap malampasti aku meluangkan waktu untuk menulis dan tak pernah meninggalkan canduku yang satu ini.
10menit pun berlalu, aku bergegas pulang dan membawa segelas mocacinno yang masih ada setengah gelas. Masih terasa hangat, dan masih belum rela aku buang. Seperti cintaku kepada Khrisna, aku masih ingin meneruskan ceritaku bersama dia, masih belum rela jika aku melepasnya. Namun keadaan sudah membuatku tak ada daya lagi. Dan akupun menyerah.
Sampai dirumah, aku bergegas mandi, mengambil air wudhu dan aku segera sholat. Sama seperti malam-malam kemarin, aku masih tetap mendo’akan Khrisna, tak pernah absen untuk bercerita tentangnya kepada Tuhan.
--------------------
Malam ini terasa begitu dingin, ku ambil laptopku. Lalu aku meneruskan cerpen untuk blogku. Masih saja aku menulis tentang hidupku sendiri, terlalu banyak komentar yang langsung ku dengar, membuatku tersenyum. Entah aku harus senang atau menangis, yang jelas aku enggan untuk terlarut dalam sedihku.
Ku buka handphone, masih saja kusimpan pesan-pesan singkat Khrisna. Masih saja aku usil untuk membacanya. Sangat klasik memang, jika aku menangis mengingatnya. Ah, apa yang slah denganku ini. Mengapa harus berakhir seperti ini. sudahlah. Aku sudah lelah, mataku sangat berat jika haus tak tidur lagi. Aku butuh istirahat. Beberapa hari ini aku menjadi egois, tak memikirkan keadaanku sendiri. Makan tak teratur, apalagi tidur. Ah, tolol!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar