Minggu, 06 Januari 2013

Masihkah kau seperti yg dulu: senja?

Mentari. Kita hanyalah makhluk kecil diantara beribu sinar yg dipancarkannya, seperti pengharapan selalu saja datang dan menawarkan ribuan keindahan, namun ketika semua itu tiada tercapai hanyalah satu yg kita peroleh, ya! Kecewa. Tak ada kata lain selain kecewa. Kita terluka? Pasti. Hanya saja kita dituntut pandai untuk menutupinya.
Senja, tanpa warna, kelam, seperti yg lalu. Kelabu!
Malam, begitu kunanti, karna malam selalu menghadirkan sejuta kerinduanku kepada adam. Jauh, tak mampu ku jangkau, tak mampu kupandang, apalagi kusentuh; kukecup, seperti malam-malam sebelumnya. Malampun turut menjadi kelam. Pagi menjelang, kutetap terjaga. Menanti sang adam memberi kabar. Meskipun melalui sebuah khayalan. Terlalu indah mengkhayal hingga aku lupa bagaimana harusnya aku mendarat. Karan khayalanku sudah terbang begitu jauh; sejauh kita. Terpisahkan pulau, terpisahkan hati pula. Kita pun sebenarnya sudah tiada. Hanya aku saja yg masih mengenang. Hujan yang semakin deras membuyarkan lamunanku yang begitu sendu, tak ada alasan yang pasti mengapa aku menjadi sesendu ini. Aku rindu atau? Entahlah, yang jelas aku hanya ingin mengingat betapa manisnya kisah cintaku dulu. -

Tidak ada komentar:

Powered By Blogger