porsi dan posisiku sudah diskenariokan. kita hanya pemeran, tak perlu menebak-nebak masa depan, jalani saja hari ini.
Minggu, 16 Desember 2012
absurd namun begitu nyata
Mentari. Kita hanyalah makhluk kecil diantara beribu sinar yg dipancarkannya, seperti pengharapan selalu saja datang dan menawarkan ribuan keindahan, namun ketika semua itu tiada tercapai hanyalah satu yg kita peroleh, ya! Kecewa. Tak ada kata lain selain kecewa. Kita terluka? Pasti. Hanya saja kita dituntut pandai untuk menutupinya.
Senja, tanpa warna, kelam, seperti yg alalu. Kelabu!
lalu
Malam, begitu kunanti, karna malam selalu menghadirkan sejuta kerinduan kepada adam. Jauh, tak mampu ku jangkau, tak mampu kupandang, apalagi kusentuh; kukecup, seperti malam-malam sebelumnya. Malampun turut menjadi kelam.
Pagi menjelang, kutetap terjaga. Menanti sang adam memberi kabar. Meskipun melalui sebuah khayalan. Terlalu indah mengkhayal hingga aku lupa bagaimana harusnya aku mendarat. Karan khayalanku sudah terbang begitu jauh; sejauh kita. Terpisahkan pulau, terpisahkan hati pula. Kita pun sebenarnya sudah tiada. Hanya aku saja yg masih mengenang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar